Kembali ke semua artikel

Cara Kontraktor Konstruksi Menghemat Biaya Alat Berat per Proyek

Bagikan𝕏
Cara Kontraktor Konstruksi Menghemat Biaya Alat Berat per Proyek
Daftar isi

Kontraktor konstruksi menghemat biaya alat berat terutama dengan tiga keputusan: memilih beli atau sewa sesuai durasi dan utilisasi proyek, mencocokkan kelas unit dengan pekerjaan, dan mengendalikan keausan undercarriage serta GET di medan proyek yang keras seperti aspal, beton, dan timbunan berbatu. Sektor konstruksi menyerap sekitar 15 persen penjualan unit Komatsu oleh United Tractors pada 2025, dan persaingan tender membuat margin tipis, sehingga biaya per jam unit sangat menentukan. Artikel ini membahas langkah praktis untuk proyek jalan, perumahan, cut and fill, dan infrastruktur.

Inti artikel

  • Beli unit masuk akal jika ada pekerjaan berkelanjutan dengan utilisasi tinggi; sewa lebih aman untuk proyek pendek atau pekerjaan khusus.
  • Unit yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk pekerjaan sama-sama memboroskan biaya per volume.
  • Aspal, beton, dan timbunan batu mempercepat keausan undercarriage; batasi travel, gunakan trailer, dan pertimbangkan rubber pad.
  • Manfaatkan jeda antar proyek untuk mengukur dan mengganti part secara terencana.

Lebih untung beli atau sewa alat berat untuk proyek?

Tidak ada jawaban tunggal. Patokannya adalah berapa jam unit akan benar-benar bekerja dalam setahun dan apakah pekerjaan berikutnya sudah jelas. Unit milik sendiri menanggung biaya tetap (cicilan, asuransi, penyusutan, perawatan) walau sedang menganggur. Unit sewaan hanya dibayar saat dipakai, tetapi tarif per jamnya sudah mengandung margin pemilik rental.

Kondisi proyekKecenderunganAlasan
Proyek di bawah 3 bulan, lokasi jauh dari basisSewaBiaya mobilisasi unit sendiri dan waktu menganggur setelah proyek tinggi
Pekerjaan khusus (long arm, breaker, unit amphibi)SewaUtilisasi unit khusus biasanya rendah
Kontrak berulang atau multi-tahun di wilayah yang samaBeliUtilisasi tinggi, biaya per jam unit sendiri lebih rendah
Unit kelas umum (20 ton) dipakai hampir sepanjang tahunBeliBanyak pekerjaan bisa ditangani, nilai jual kembali relatif terjaga
Puncak pekerjaan sesaat di atas kapasitas armadaKombinasiArmada inti milik sendiri, tambahan dari rental
Pola umum keputusan beli atau sewa. Hitung dengan data utilisasi dan tarif di wilayah Anda.

Sebagai contoh ilustrasi: jika tarif sewa dry excavator 20 ton di wilayah Anda sekitar Rp 450.000 per jam dengan minimum 200 jam per bulan, maka biaya sewa sekitar Rp 90 juta per bulan. Bandingkan dengan biaya per bulan unit milik sendiri (cicilan atau penyusutan, asuransi, perawatan, cadangan undercarriage) pada utilisasi yang realistis. Tarif sewa nyata sangat bervariasi menurut daerah dan kontrak, jadi gunakan penawaran yang Anda terima.

Bagaimana mencocokkan unit dengan jenis pekerjaan?

Unit terlalu kecil membuat siklus lambat dan unit bekerja di batas kemampuannya sehingga komponen cepat aus. Unit terlalu besar membakar BBM lebih banyak, biaya mobilisasinya tinggi, dan bisa merusak permukaan di area sempit.

  • Perumahan dan drainase di area sempit: excavator mini sampai 7 ton, atau 13 sampai 14 ton untuk galian lebih dalam.
  • Galian saluran, pondasi, dan loading ke truk di proyek menengah: excavator kelas 20 ton paling fleksibel.
  • Cut and fill skala besar dan galian massal: excavator 30 sampai 35 ton dipadukan bulldozer untuk perataan.
  • Pembentukan badan jalan dan perataan timbunan: bulldozer kelas menengah dan motor grader.
  • Pekerjaan pembongkaran beton: excavator dengan breaker, unit sewa sering lebih ekonomis.

Kecocokan unit juga terlihat dari konsumsi BBM. Sebagai gambaran ilustrasi, excavator 20 ton umumnya membakar sekitar 12 sampai 18 liter solar per jam tergantung beban, sedangkan bulldozer kelas D85 sekitar 20 sampai 28 liter per jam. Jika unit besar dipakai untuk pekerjaan ringan, biaya BBM per meter kubik naik tanpa tambahan produksi. Sebaliknya, unit kecil yang dipaksa menggali material keras akan bekerja di tekanan hidrolik maksimum terus-menerus, sehingga kuku bucket, pin, bushing, dan undercarriage lebih cepat aus. Catat volume kerja harian dan jam kerja setiap unit agar Anda bisa menghitung biaya per meter kubik, lalu gunakan angka itu saat menyusun penawaran tender berikutnya.

Kenapa undercarriage cepat aus di proyek konstruksi?

Medan proyek konstruksi berbeda dengan tambang. Unit sering berjalan di atas aspal, beton, atau jalan kerja yang dipadatkan dengan batu. Permukaan keras ini memperbesar beban kejut pada rantai dan roller, dan travel jarak jauh di dalam proyek mempercepat keausan pin, bushing, dan sprocket. Di timbunan batu pecah, grouser shoe dan rel rantai juga lebih cepat terkikis.

MedanRisiko keausanPengendalian
Aspal dan betonPermukaan jalan rusak, beban kejut pada rantai dan rollerRubber pad pada shoe, batasi travel, hindari spin turn
Timbunan batu atau sirtuGrouser dan rel rantai cepat terkikis, shoe bisa retakShoe dengan grouser sesuai, jaga ketegangan track
Tanah liat basahMaterial menumpuk di undercarriage, track terlalu kencangBersihkan undercarriage setiap shift, setel track lebih kendor sesuai manual
Jalan kerja panjang di dalam proyekKeausan pin, bushing, sprocket karena jarak travelGunakan trailer untuk jarak jauh, atur posisi kerja unit
Medan umum proyek konstruksi dan cara mengendalikan keausan undercarriage.

Rubber pad untuk pekerjaan di jalan

Pada proyek jalan atau area perkotaan yang mensyaratkan permukaan tidak rusak, rubber pad yang dipasang pada track shoe melindungi aspal dan mengurangi getaran. Pastikan tipe dan lebar rubber pad sesuai shoe unit Anda.

Bagaimana memilih GET untuk pekerjaan konstruksi?

Kuku bucket dan cutting edge adalah part yang paling cepat habis di proyek konstruksi. Pilih tipe kuku sesuai material: kuku standar untuk tanah umum, tipe rock atau chisel untuk material berbatu, dan kuku lebar untuk tanah lunak agar dasar galian rapi. Untuk bulldozer di pekerjaan perataan, cutting edge dan end bit yang tepat menjaga moldboard tetap utuh.

Kebiasaan yang menghemat GET

  • Rotasi kuku tengah dan pinggir secara berkala
  • Ganti kuku sebelum adapter ikut aus
  • Membalik cutting edge bulldozer saat satu sisi aus
  • Menyimpan kuku dan pin cadangan di lokasi

Kebiasaan yang memboroskan GET

  • Memakai kuku sampai habis ke adapter
  • Memakai bucket untuk memukul beton
  • Satu tipe kuku untuk semua material
  • Menunggu rusak baru memesan

Apa yang dilakukan saat jeda antar proyek?

Jeda antar proyek adalah waktu emas untuk perawatan terencana, karena unit tidak sedang menghasilkan uang. Jangan biarkan unit hanya diparkir.

  1. 1

    Bersihkan dan inspeksi menyeluruh

    Cuci undercarriage, periksa retak pada rangka, boom, dan arm, serta kebocoran di silinder dan final drive.

  2. 2

    Ukur undercarriage dan GET

    Catat keausan rantai, roller, sprocket, idler, shoe, kuku bucket, dan cutting edge. Bandingkan dengan pengukuran sebelumnya.

  3. 3

    Ganti part yang mendekati batas

    Lebih murah mengganti di bengkel sendiri saat jeda daripada di tengah proyek berikutnya, apalagi jika proyek berikutnya jauh.

  4. 4

    Servis berkala yang jatuh tempo

    Majukan servis yang akan jatuh tempo dalam beberapa ratus jam ke depan agar unit siap penuh di proyek berikutnya.

  5. 5

    Siapkan kit part untuk proyek berikutnya

    Filter, kuku cadangan, pin pengunci, dan baut shoe ikut dikirim bersama unit ke lokasi baru.

Siapkan sparepart proyek Anda bersama PT SMC

Dari gudang di Jakarta Barat, PT SMC melayani kontraktor konstruksi di Jabodetabek dan proyek di seluruh Indonesia dengan sparepart undercarriage, track shoe, GET, dan part pendukung untuk berbagai merek excavator dan bulldozer. Hubungi tim PT SMC via WhatsApp dengan daftar unit (model dan serial number), part number atau foto part, serta lokasi proyek. Kami akan menginformasikan stok, harga, dan estimasi pengiriman, lalu mengirimkan penawaran tertulis untuk kebutuhan proyek Anda.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Mau cek stok atau harga Track Shoe?

Kirim part number atau model unit Anda. Kami balas dengan stok, harga, dan estimasi pengiriman.

Chat WhatsApp